Selasa, 23 Februari 2016

 Kamus bahasa Berau  

Bahasa Berau atau juga disebut bahasa Banua adalah bahasa yang di tuturkan suku berau di Kabupaten Berau kalimantan timur.
Namun jangan heran jika ada orang asli Berau khusus nya anak muda yang tidak fasih berdialog dengan bahasa melayu Berau ini. mungkin karena bahasa ini di anggap kurang "gaul" atau apalah sehingga muda mudi sekarang kurang begitu tertarik.
Menurut saya, bahasa berau serta kebudayaan seharusnya di jadikan mata pelajaran di setiap sekolah Kabupaten Berau, agar muda mudi Berau lebih mengenal bahasa daerah nya.
Nah berikut kamus bahasa Berau:
abissia : teman – Teman
ampik : sarung
andang : memang
antta: kita
attu : itu
auu : iya
anu : yang
alliapa : ada apa/mengapa
agai : panggilan untuk laki-laki
annik : sedikit
allan : malu
angkup : hantam
alaw : ambil
amma : bapak
babbal : tidak mudah diatur
bala : nakal
babiran : mengomel
bassai : dayung
bangsa : seperti
butur : judi
barakkat : bungkusan/oleh-oleh
balimpang : berbaring
bujur : betul
bal : bola
baniapa : bagaimana
bai : babi
baddit : Makan Sampai Habis
bakunukunu : Beraharap – harap
balibasan : Berselisih
baliuk: Menari
baluum: Berenung
barinut : Pelan – Pelan
basulai : Bergantian
battis : Kaki
bedarup : Cici Muka
bekaya : Terlalu
belayak : Telentang
beranyut : Pelan – Pelan
berau  : Banua
betapuk : Sembunyi
bulu : Bambu
bumbunan: Kepala
cabbuk : Gayung
caradik : Pintar
cumit : Kumis
carian : kangen
currik : tidak mendengar
culu : korek api
dampa : mau,suka
dangkita : kalian
darup : cuci muka
damini : begini
damitu : begitu
dampanya : biarkan
danggan: Teman ( Pasangan )
gayyu : sibuk
gaddang : buah pepaya
gaguling : bantal guling
gattuk : sentuh
gurimbang : tepian sungai yang curam
gabbar : selimut
gaung – gaung : termehek – mehek
gawai : kerja
hakku : lutut
handap : pendek
ijai : dagu
ikkung : ekor
inda : ibu / mama
intam : cerita
irrau : rubut / ( Keramaian )
indangnya : memangnya
inni : nenek
jajjal : susah di atur
jinnya : katanya
jakku : kataku
jukut : ikan
jakku : kata ku
jammpai : besok / lusa
jammu : kata dia
kumpa : paha
kukun : konon ( yang lampau )
kukuk: anjing
kama : kasur / tempat Tidur
kalamian : Sore Hari
kail : pancing
kappak : tuli
kuru : ngorok/mendengkur
karra : monyet
karrat : potong
karitan : hiu
kejalan : ketempat
kedayaw : biawak/sejenis kadal
kalamayi : kemarin
karajja : kerjaan
kinsum : senyum
kamayi : kesini
kalitak : ketiak
karappi : dompet
karrap : sering
kaluppan : lupa
kumpa : paha
lallai; lambat
limpa : berhamburan
lalai : piring
lungku : tak semangat
laga : ajak
littak : becek
lajut  : loncat
lakanak : anak – anak
langas : lumpur
langgis : habis Semua
langwa : lalat
lanji : centil
lanting : wc
lawai : benang
lubbak : lubang
lusung : pulang
maccis : Korek api
mangudut : Meroko
maniang : Memanjat
memisil : Kupas
mengamit : Ambil sedikit
menggaragak : Mendidih
menitik : Pukul / Memukul
miang : Gatal – Gatal
miris : mau
marrang : senang
muta : muntah
mulang : pulang
mallur : melati
nda warna : Beraneka ragam
nta : kita
nannak : pusing
paluntai : pemalas
pandak : pendek
pattang : gelap
pabulla :bohong
paninggal : nakal
patuan/Kula : sepupu / Keluarga
pi Jammil : dingin
picca : pecah
pinggut : cubit
pinyak : pesek
puri : bagus / Baik / Cantik
rajjan : tangga
ranggit : Nyamuk
riauu : teriak
ruku : rokok
rabba limpa : tumpah berhamburan
rabba : rubuh tambing
rumpung : ompong
sagattil : sedikit sekali
salawar : celana
sambat : pagi Hari
sanggam : indah / bagus / rupawan / cantik
sekarang : sebentar
sigul : menyenggol
sisil : agas ( Nayamuk Kecil )
sugai : sisir
sulipi : bantal
siyyin : uang
sannai : santai/diam
sarubit : sedikit
sallu : jengkel
suru : pasang ( biasa digunakan untuk air )
sungut : mulut
sasamma : kacamata
sudu : sendok
sattrat : jalanan
tattak tukul : diam di tempat
tittik : pukul
tagarri : pegang
tabbak : lempar
tutung : terbakar
tuku : dekat
tabir : terpotong
tajar : batas
talancu : kelewat batas
talla libas : terlewat
tapian : tepian Sungai
tumpis : suka menceritakan orang / ember
uluk : olok
ulai : perempuan
umbang : Anak Panah
unjai : Kucing
urang : Orang
walla : gila

Senin, 22 Februari 2016

Sejarah Berau


   Berau merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur,dengan Tanjung Redeb sebagau ibu kota. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 34.127,47 km² terdiri dari daratan dan lautan serta terdiri dari 52 pulau dengan 13 Kecamatan, 10 Kelurahan, 96 Kampung/ Desa. Jumlah penduduk berau sekitar 251.985 jiwa pada 2013 dan setiap tahun terus meningkat, hal ini terjadi karena pertumbuhan pembangunan investasi yang baik.

  Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang didirikan sekitar abadd ke-14. Menurut sejarah Berau, Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan Isterinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu Bara PT. Berau Coal).

  Aji Raden Suryanata Kesuma menjalankan masa pemerintahannya tahun 1400 – 1432 dengan adil dan bijaksana, sehingga kesejahteraan rakyatnya meningkat. Pada masa itu dia berhasil menyatukan wilayah pemukiman masyarakat Berau yang disebut Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut dan Banua Rantau Sewakung.

Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan dia disegani lawan maupun kawan. Untuk mengenang jasa Raja Berau yang pertama ini, Pemerintah telah mengabdikannya sebagai nama Korem 091 Aji Raden Surya Nata Kesuma yang Rayon Militer Kodam VI/TPR.

  Setelah beliau wafat, Pemerintahan Kesultanan Berau dilanjutkan oleh putranya dan selanjutnya secara turun temurun keturunannya memerintah sampai pada sekitar abad ke-17. Kemudian awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Namun kegiatan itu dilakukan dengan politik De Vide Et Impera (politik adu domba). Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

  Pada saat bersamaan masuk pula ajaran agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin (1800 – 1852). Raja Alam terkenal pimpinan yang gigih menentang penjajah belanda. Raja Alam pernah ditawan dan diasingkan ke Makassar (dahulu Ujung Pandang). Untuk mengenang jiwa Patriot Raja Alam namanya diabadikan menjadi Batalyon 613 Raja Alam yang berkedudukan di Kota Tarakan.

  Sedangkan Kesultanan Gunung Tabur sebagai Sultan pertamanya adalah Sultan Muhammad Zainal Abidin (1800 – 1833), keturunannya meneruskan pemerintahan hingga kepada Sultan Achmad Maulana Chalifatullah Djalaluddin (wafat 15 April 1951) dan Sultan terkhir adalah Aji Raden Muhammad Ayub (1951 – 1960). Kemudian wilayah kesultanan tersebut menjadi bagian dari Kabupaten Berau.

  Sultan Muhammad Amminuddin menjadi Kepala Daerah Istimewa Berau. Beliau memerintah sampai dengan adanya peraturan peralihan dari Daerah Istimewa menjadi Kabupaten Dati II Berau, yaitu Undang-undang Darurat tahun 1953 Tanggal terbitnya Undang-undang tersebut dijadikan sebagai Hari jadi Kabupaten Berau. Dengan diterbitkannya Undang-undang No.27 tahun 1959, Daerah Istimewa Berau berubah menjadi kabupaten Dati II Berau dan Tanjung Redeb sebagai Ibukotanya, dengan Sultan Aji Raden Muhammad Ayub (1960 – 1964) menjadi Bupati Kepala Daerah Tk. II Berau yang pertama.
Penetapan Kota Tanjung Redeb sebagai pusat pemerintahan Dati II Kabupaten Berau adalah untuk mengenang pemerintahan Kerajaan (Kesultanan) di Berau. Di mana pada tahun 1810 Sultan Alimuddin (Raja Alam) memindahkan pusat pemerintahannya ke Kampung Gayam yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Bugis. Perpindahan ke Kampung Bugis pada tanggal 25 September tahun 1810 itu menjadi cikal bakal berdirinya kota Tanjung Redeb, yaitu kemudian dibadikan sebagai Hari jadi Kota Tanjung Redeb sebagaimana diterapkan dalam Perda No. 3 tanggal 2 April 1992.